Pengalaman di SEM 4
Baiklah
sekarang gua akan ceritain kisah gua.Bukan kisah sih lebih ke impian gue.Salah
satu impian gua yaitu menjadi seorang anak yang tidak lagi merepotkan kedua
orang tuanya.Terlebih lagi gua sebagai anak laki-laki yang bungsu harusnya bisa
memberikan yang lebih baik daripada apa yang kakak abang gua lakukan.Dari 4
saudara,gua memiliki 2 orang kakak laki-laki atau biasa gua sebut abang dan 1
kakak perempuan gua.Semua kakak dan abang gua sudah melewati fase sekolah dan
semua nya pun udah punya kerjaan masing-masing.Jenjang antara umur gua dengan
abang gua yang merupakan anak ketiga dari keluarga saja lumayan jauh.
Jaraknya
sekitar 4/5 tahun-an.Kehidupan gua
memang sedikit berbeda dari kakak abang gua.Bisa dibilang gua terlalu
dimanja oleh orang tua gua sampai bahkan kakak maupun abang gua biasanya iri
dan kesal ama sikap gua juga yang terlalu manja.Hal yang menjadi perbedaan
selanjutnya adalah gua sudah punya sepeda saat Smp.Hal itu merupakan pemberian
termahal bagiku yang tak diberikan ke meraka saat mereka smp.Saat masuk Sma gua
udah punya hp,berbeda dengan mereka yang baru punya hp saat kerja.Hal itulah
yang membuat gua merasa seakan-akan gua itu ga berguna bagi keluarga ini.
Gua
jadi pemalas karena sering di manja.Semua kegiatan baik dapur,kemas-kemas rumah
dan lain-lain lebih dikerjakan oleh orang tua gua.Mereka sudah sering menyuruh
gua namun gua malas melakukannya dan lagi gua orangnya pemarah dan hal itu yang
selalu gua sesali sampai saat ini.Gua selalu saja mengeluh soal diri ini namun
tidak ada satupun yang dapat gua ubah.Sifat malas yang menjadi masalah nomor
satu dan kebiasaan ku yang tak berubah-ubah tidak ada yang gua perbaiki malah
semakin serasa gua ini ga punya kehidupan selain main game,makan dan
tidur.Itu-itu dan itu yang tidak pernah berubah dari diri ini.Wkkwkw gua jadi
curhat kaya gini,yah mau bagaimana lagi memang inilah fakta yang ga akan
berubah sampai kapanpun kalau tidak ada tindakan yang pasti walaupun niat sudah
ada.Niat namun ga berbuat sama saja seperti menghitung pasir di pantai.Ga
selesai-selesai.
Aku
hidup di daerah atau tempat yang memang tidak pernah ada kejadian-kejadian
nakal alias tempat yang tidak mengenal pergaulan bebas.Aku sempat berfikir
waktu aku sekolah di jenjang smp,kenapa teman-temanku waktu smp dulu sudah
mengenal yang namanya cinta.Yah pastinya aku waktu itu masih kelas 7 dan belum
mimpi basah jadinya aku berfikiran seperti itu.
Sampai
pada waktunya aku mengalami pubertas pertamaku pada kelas 8 dan aku mulai
menyukai satu perempuan yang ada di kelas ku itu. Walaupun begitu aku tidak
ingin melakukan hal seperti teman ku yaitu pacaran dengannya.Awalnya aku
berfikir jika pacaran itu adalah hal yang merusak pertemanan sampai akhirnya
aku sadar setelah mendengar ceramah tentang bahayanya pacaran dalam islam.
“Dan janganlah kau
dekati zina,sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang
buruk(Al-Isra ayat 32)”
Setelah
mendengar ayat tersebut dan memahaminya berkat ceramah yang aku dengar,aku pun
sudah membulatkan prinsip ku bahwa aku tidak ingin berpacaran hingga aku
mendapatkan pasangan yang sah.Walaupun dalil tersebut sudah jelas dan memiliki
sebuah dosa dan dampak yang berbahaya bagi pelakunya sendiri namun dari smp
sampai ke Madrasah Aliyah yang kuanggap tempat dimana aku bisa berkumpul dengan
orang yang sama dengan prinsip ku ini pun sama halnya dengan sekolah-sekolah
pada umumnya.Bahkan aku tak menduga bahwa hampir separuh teman sekelasku sudah
pernah dan ada yang masih berpacaran hingga saat aku keluar dari Madrasah.
Di
Madrasah itu juga aku mulai perlahan goyah dari prinsip yang aku jalani selama
ini.Aku mengenal sesosok wanita yang kriterianya sangat aku idamkan untuk
menjadi pasangan kelak ku.Kami awalnya hanya berteman biasa,namun itu berubah
saat menuju fase akhir di semester itu.Aku mempunyai cara untuk berteman,semua
temanku kuperlakukan dengan cara yang sama yah dari cara berbicara.Mau itu
laki-laki ataupun perempuan aku tetap berbicara dengan mereka seperti
biasanya.Namun kali ini berbeda jika aku berbicara dengannya.Dia itu suka
dengar komedi dan lawakan yang aku buat padahal teman-teman yang telah kenal
sama aku malah nganggap aku itu tidak lucu.Yah antara humornya dia receh atau
gimana aku tidak tahu,yang penting dia suka dengar aku ngelawak.Selain dia juga
sering curhat,paling sering sih masalah agama karena memang walaupun aku belum
tahu tapi untuk pertanyaannya itu lebih ke dasar-dasar pemahaman dan
alhamdulillah aku dapat menjawab beberapa pertanyaanya..
Makin
lama,aku jadi lebih sering ngechat dia dibandingkan dengan hanya iseng di grup
kelas aku.Semakin larut,makin larut hingga aku lupa bahwa aku telah melanggar
prinsip ku sendiri.Begitu bodohnya aku yang terhasut karena nafsu dan
janji-janji yang aku tahu bahwa hampir mustahil aku bisa menepatinya.Akan
tetapi karena nafsu dan setan yang telah membuatku buta sampai membuat janji
itu.Hal yang aku sesali selama ini,hampir menghancurkan prinsip utama dan telah
menghancurkan prinsip alamku sebagai seorang laki-laki.
Pusing,pusing
banget rasanya karena mata kuliah ini membuat otak harus terus berfikir dan
bekerja dengan baik.Siapa lagi kalau bukan filsafat Ilmu.Yah mata kuliah ini
tugasnya sih sederhana dan tidak banyak tingkah.Namun hal yang membuat
pelajaran ini susah karena 2 hal menurutku. Pertama,aku memang belum pernah
mempelajari mata kuliah ini selama aku bersekolah.Bukan karena aku malas tapi
memang pelajaran seperti ini tidak cocok untuk anak-anak sekolah alias
pelajaran berat. Kedua,sesuai dengan definisinya yaitu ilmu yang membuat
seseorang terus bertanya dan sebuah pertanyaan akan menghasilkan sebuah jawaban
yang kemudian jawaban tersebut dipertanyakan lagi.Hal inilah yang membuatku
bertanya-tanya kenapa kuliah sesulit ini hahahaha.
Yah
selain itu juga banyak sekali materi-materi yang tidak bisa dipahami secara
langsung karena terdapat istilah asing yang perlu dijelaskan secara etimologi
dan terminologinya.Tapi hal yang kusuka yaitu dosennya yang tidak terlalu ribet
dalam memberikan tugas karena beliau juga memberikan beberapa langkah berupa
materi yang beliau sajikan sehingga kami yang diampunya dapat sedikit memahami
materi dan tugas yang diberikan. Ilmu yang aku ingat sampai sekarang adalah
tentang 3 cabang filsafat yaitu Ontologi,Epistemologi,dan aksiologi. Ontologi adalah
cabang filsafat yang membahas tentang keberadaan sesuatu.Tujuannya yaitu agar
kita mampu/sadar tentang realita yang terjadi dan bagaimana penampakannya.
Epistemologi adalah bahasan-bahasan tentang pengetahuan.Terdapat 2 bahasan
dalam epistemologi yaitu rasionalisme dan empirisme. Aksiologi juga merupakan
bahasan yang membahas permasalahan nilai.Terbagi menjadi dua bahasan yaitu
etika dan estetika. Hanya ketiga cabang itu yang aku ingat dari sekian banyak
pembahasan-pembahasan mengenai filsafat ilmu.Jujur,untuk mata kuliah ini aku
harus benar-benar berfikir keras karena pemahamannya tinggi sekali.
Yah kali ini aku akan menceritakan tentang kisah Bilal Bin Rabbah yang
merupakan Sahabat Nabi saw. Namanya adalah Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan
mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan,
walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat
setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya. Bilal lahir di daerah as-Sarah
sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya
bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah.
Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’
(putra wanita hitam).
Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah)
sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal,
Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.
Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu
‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah
termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di
bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru
itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq,
Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi,
dan al-Miqdad bin al-Aswad. Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik
yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan
kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah
lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang
jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun. Orang-orang Islam seperti Abu Bakar
dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka.
Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba
sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy
menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas
mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti
ajaran Muhammad. Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy
yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang
telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci
maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus
punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam. Sementara itu,
saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa
oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun
dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat,
orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas
itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh
sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang
Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.
Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang
Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti
kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara
hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah
meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika
dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.
Seperti biasanya
gua akan menceritakan pengalaman pribadi gua selama menjadi mahasiswa IAIN
Pontianak khususnya di Semester 2 yang sudah saya selesaikan. Oke pertama-tama
saya mengutarakan isi pikiran gw selama ini mengenai sistem pembelajaran DARING
yang membuat pikiran saya berkesinambungan.
Gue
awalnya menyukai sistem belajar daring bahkan merasa sangat senang karena tidak
perlu bolak balik ke kampus untuk masuk kelas. Selain itu juga saya bisa
mengerjakan tugas sambil bekerja di toko yang letaknya dekat rumah ibarat
belajar tapi dapat uang.
Namun
semakin lama rasanya jika sistem ini tetap lanjut mungkin aku akan kesulitan
untuk menggapai cita-citaku sebagai seorang guru. Alasan utamaku berfikir
seperti itu karena belajar daring ini sama sekali tidak mempunyai visi yang
jelas mulai dari tugas yang dosen yang seenaknya diberikan tanpa adanya penjelasan atau materi
yang membuat mahasiswa nya juga seenaknya mencari jawaban dengan cara apapun
tanpa harus ketahuan apakah itu mencontek atau tidak. Sama sekali tidak
menambah wawasan baik secara mental(pengalaman) maupun ilmu. Sistem tersebut
secara tidak langsung mengubah mindset mahasiswa untuk lebih mementingkan nilai
dibandingkan ilmu. Untuk itu aku sempat merasa bahwa belajar secara online ini
merupakan pembelajaran yang sia-sia,uang habis namun tidak merasakan sedikitpun
rasa puas menjadi seorang mahasiswa.
Balik
kembali ke cerita saat aku di semester 2,ada banyak sekali cerita walaupun
sebagian besar cerita itu sangat membosankan. Sebelum memasuki Semester 2
seperti biasanya kami sebagai mahasiswa melakukan pengisian KRS. Setelah
mengisi KRS,kami tinggal menunggu tanggal masuk kuliah yang akan dilaksanakan
pada hari minggu berikutnya yaitu bertepatan pada hari Senin.
Hari pertama tepatnya hari dimana saya memulai
kebiaasan yang berpaku pada karier dan masa depan saya.Beberapa kebiasaan yang
dulu saya selalu lakukan seperti rebahan,main game dan berdagang kecil-kecilan
sudah harus saya kurangi sedikit walaupun rasanya lumayan susah.Hal yang saya
takutkan atau yang saya khawatirkan bukanlah takut kalau bertemu dengan dosen
ataupun tugas yang menumpuk karena memang kalau sudah kuliah pasti tidak akan
lari dari yang namanya tugas.Akan tetapi hal yang sampai saat ini saya
khawatirkan yaitu saya masih bersikap acuh dan malas terhadap tugas yang
diberikan kepada saya.Cukuplah masa SMA saya bersikap seperti itu,untuk itulah
saya memulai sedikit menghilangkan kebiasaan yang tidak bermanfaat itu.Di hari
pertama lah saya sudah sedikit berifikir bahwa sudah waktunya untuk
mengandalkan diri sendiri.Baiklah saat nya untuk menceritakan kisah saya
mengahadapi makul sebagai mahasiswa.
Pada waktu azan subuh berkumandang,Ayah ku
datang membangunkanku untuk pergi solat.Surau di tempatku lumayan dekat dari
rumah walaupun kalau subuh itu rasanya sedikit jauh,mungkin karena efek masih
ngantuk kali ya hahaha.Setelah solat aku dan keluargaku melakukan kegiatan
rutin yaitu mengaji bersama-sama.Setelah itu aku mulai membuka gadgetku untuk
mencari informasi tentang kabar soal makul pertamaku hari ini.Biasanya tiap
hari aku selalu eh sering sih mandi di jam 10-an,makan jam 9 dan sikat gigi
sebelum zuhur.Akan tetapi,hari ini semuanya harus dituntaskan sebelum jam
7.Ketika waktu kurang dari 15 menit menuju makul yang pertama,aku sudah berada
di lantai 2 rumah karena sinyal di lantai 1 sedikit hancur/jelek.Ketika jarum
sudah menunjuk ke arah angka 7 akupun langsung memegang gadget ku dan langsung
mengecek apakah makul pertamaku sudah dimulai.Saat dimulai,aku terkejut melihat
jadwal tugas dan persiapan UTS dan UAS yang Subhanallah bikin jiwa pemalas ku
bergetar.Ya sudah resiko kalo mau harapan terwujud,ibarat pepatah merakit-rakit
dahulu bersenang-senang kemudian.Mau tidak mulai harus mengandalkan diri
sendiri,pandai memilah waktu biar tidak terlalu stress nantinya.Yah intinya tuh
jangan malas dan nunda-nundain tugas sih soalnya menurutku porsi tugas di SMA
aja kalau di tunda bisa numpuk apalagi kalo udah kuliah,waduh bisa stress sih.
Di hari pertama itu aku harus sedikit mengenal
teman kelas ku.Kalo jujur sih aku itu agak sulit berinteraksi sosial di awal
masuk di kampus ini.mulai dari kelas A yang waktu itu aku pillih karena ada
teman sekelas ku waktu SMA jadi aku ada temen yang bisa diajak bicara.Namun
mungkin pihak kampus merasa kalo sistem kelas yang dipilh oleh maba bukanlah
hal yang bagus.Oleh karena itu mereka merombak semuanya,teman-teman ku termasuk
aku terpisah di kelas lain.Tapi bagiku itu tidak terlalu buruk karena mungkin
ini saatnya aku menemukan teman baru.Alhamdulillah aku mulai sedikit mengenal
mereka,sedikit ada tawa karena tingkah mereka yang tidak jauh dari jaman
sebelumnya.Yah walaupun masih sedikit sih yang kukenal karena bukan hanya 40
orang sih yang menurutku sangat banyak dan yang paling susah buatku untuk
berinterkasi sosial dengan mereka karena banyak dari mereka yang tinggal jauh.
Yah walaupun masih
banyak pertemuan-pertemuan dengan dosen,bisa dibilang masih 14 minggu lagi
untuk mengakhiri semester ini.Seperti biasa nya gua(sekali-kali pake bahasa
gaul) melakukan sedikit demi sedikit apa yang di suruh dosen pengampu.Sama
seperti minggu-minggu sebelumnya gua lakuin dengan santai tapi usahakan harus
selesai minimal h-2/3.Cuman minggu ini sedikit berbeda ama minggu
sebelumnya,dimana gue sebagai remaja surau dan anggota hadrah di daerah gua
merayakan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang setiap tahun pasti digelar di
daerah gua.Sebagai remaja surau gua bersama teman-teman ditunjuk sebagai
panitia di acara tersebut.Gua dipilih sebagai MC sekaligus vokal Majelis
Syubanul Mustafa.H-1 gua gladi bersih di surau dari pagi sampai dekat menjelang
zuhur.Setelah itu gua bersama teman hadrah gua latihan untuk persiapan nanti
malam.
Dan malam pun tiba.Acara
tersebut mulai setelah ba’da Isya di surau gua.Seperti biasanya sebelum acara
dimulai,gua dan teman hadrah mulai tampil menyanyikan lantunan sholawat sambil
menunggu jama’ah dan Ustad datang ke acara tersebut.Setelah ustad datang,kami
lansung berdiri untuk melakukan mahalul qiyam sampai selesai.Selanjutnya gua
sebagai pembawa acara memimpin acara tersebut hingga selesai.Walaupun masih
sangat terbata-bata(sedikit gugup) tapi gua senang karena acaranya sudah
selesai dan Alhamdulillah berjalan dengan lancar.Di malam
itu,gua,teman-teman,dan para panitia lainnya membersihkan semua sampah yang
berserakan dan menata kondisi surau kembali seperti sediakala.Setelah
selesai,gua menghadap kepada ustad selaku pimpinan majelis sebagai rapat penutup.Alhamdulillah
selesai semua dan gua pun bisa pulang dan istirahat karena besoknya jadwal
kuliah gua dimulai jam 7 pagi.Keesokan harinya,seperti biasa gua siapin
semuanya mulai dari laptop dan hp serta sedikit sarapan ringan.Gua itu orangnya
kadang suka banget sarapan pagi yang berat-berat kayak nasi.Namun juga biasanya
gua itu seperti mau muntah atau tiba-tiba aja masih kenyang padahal setiap pagi
itu rasanya lapar banget.Keluarga gua memang suka sarapan pagi,yah karena
sarapan diwaktu pagi itu bagus untuk kesehatan.
Oh ya,gua lupa ngasih tau.Pas
malam setelah acara maulid itu selesai,majelis mau mengadakan miladnya yang
ke-3.Jadi setelah kuliah pada hari rabu gua langsung pergi rapat dan ditunjuk
lagi sebagai MC(ah malas,padahal banyak yang lebih bagus daripada gua gitu
dalam hati wkwkwk).Yah okelah gua pun ditunjuk ama ustad dan beliau ingin gua
semakin berkembang biar tidak ada lagi insiden demam panggung yang gua
rasain(wah seketika gua semangat).Dalam rapat yang dibilang mendadak itu,gua
dan para semua anggota majelis intropeksi diri karena acara tersebut sebentar
lagi diadakan yang mengundang sekitar 100+ orang(bahkan lebih banyak dari acara
maulid di surau).Padahal acara disurau sudah direncanain sebulan
sebelumnya,akan tetapi acara yang lebih banyak ini malah seminggu sebelum
puncak dan masih belum lengkap(lebih parahnya tidak ada proposal)jadinya kami
satu majelis kerja keras dan menyiapkan seadanya karena kurangnya dana untuk
menyiapkan acara tersebut.